Archive for September 2014
Tak terasa
tahun demi tahun telah di lewatinya untuk menimba ilmu. Ilmu yang di pelajari
kiranya cukup sebagai bekal hidup dalam menghadapi masyarakat ia beserta
temannya hendak pulang ke rumah masing-masing. Mereka bersamaan menghadap
syaikh di tempatnya.
Kemudian
syaikh memberikan nasehat sebagai pesan terakhir kepada mereka. Kalian tidak
boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang dalam merungadahkan
tangannya kepada orang-orang berharta maka tidak ada kebaikan di dalamnya.
Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing
sertakanlah selalu ketaqwaan kepada Allah SWT dalam menjalankan pekerjaan
tersebut.
Ketika
sesampailah di kampung halaman dan tiba di rumah ia bertemu dengan ibunya. Sang
pemuda itu menceritakan semua yang di lakukan di pesantren. Tak lama sang
pemuda bertanya “ ibu apakah pekerjaan yang dulu di lakukan ayah ?. “Sang ibu
bergetar dan menjawab : “Ayahmu sudah meninggal dunia apa urusanmu dengan
pekerjaan ayahmu pemuda itu mendesak agar ibunya menjawab. Namun akhirnya ibu bicara
juga. Dengan nada jengkel “Ayahmu itu dulu seorang pencuri.
Pemuda itu
tidak merasa kaget dengan ucapan ibunya. Pemuda itu bicara “ guruku memerintah
kepada murid-muridnya untuk bekerja seperti pekerjaan ayahanya. Tetapi harus di
serta dengan ketaqwaan kepada Allah SWT dalam menjalankan pekerjaan tersebut.
Ibunya menyela
“ hah…..??? dalam mencuri ada ketaqwaan?” pemuda itu menjawab dengan polos “ ya
begitu kata guruku”.
Keesokkan
harinya ia pergi ke tempat yang ramai dan banyak pencurinya., dengan segala
keberanian pemuda itu bertanya ke setiap orang ( para pencuri ) tentang
bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Ia pun mengetahui teknik mencuri.
Kemuadian ia
pulang ke rumah dan mempelajari peta di daerahnya dan mempersiapkan alat-alat untuk pencurian.
Ketika malam
dan suasana kampung memang sepi ia keluar rumah untuk menjalankan propesi
ayahnya. Di mulai dengan rumah tetangga hendak masuk ke rumah dia ingat akan
pesan Syaikh agar selalu bertaqwa. Padahal, mengganggu tetangga tidaklah
termasuk tanda orang-orang bertaqwa.
Akhirnya rumah itu di tinggalkan dia pun
kembali mencari rumah sasarannya. Lalu ia menemukan rumah sederhana ketika ia
hendak masuk ia berbisik pada dirinya : “ ini rumah anak yatim dan Allah
memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim”, untuk kedua kalinya,
ia tidak jadi mencuri.
Namun akhirnya mereka menemukan tempat
sasaran yang tepat. Dan mereka memasuki tempat tersebut dan di saat menghitung
nasab barang curian. Bapak pemilik rumah datang dan mengajak mereka shalat.
Berkat kejujuran mereka akhirnya salah satu di antara mereka di angkat menjadi
menantu dan yang lainnya di pekerjakan di perusahaan.
Taun demi taun
tidak terasa sudah terlewati oleh Jafar , Hasan dan Fazry dan teman-temannya di
Pondok Pesantren Masumi. Ilmu-ilmu yang mereka dapatkan pun bertambah. Malam yang indah dan di hiasi taburan
bintang itu merupakan hari terakhir bagi mereka di
pesantren,karena mereka harus meningggalkan pesantren. Pada waktu itu pun
Syaikh memberikan nasihat terakhir kepada Jafar, Hasan, Fazry dan
teman-temannya supaya bertaqwa dan mengikuti pekerjaan ayah mereka.


